Sumber Film : Bluray
Rilis : 14 Juni 2013 (Indonesia)
Genre : Action | Adventure | Fantasy | Sci Fi
Pemeran : Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon
MAN OF STEEL, film besutan Zack Snyder kali ini bertutur tentang
kegalauan Clark Kent/Kal-El (Henry Cavill) akan jati dirinya; apakah dia
anak terakhir dari bangsa Krypton atau anak adopsi pasangan Kent,
petani Smallville, Texas. Atau malah, bisakah dia memiliki identitas
keduanya? Yang jelas dalam film ini, dia digambarkan sebagai imigran
gelap dari planet lain yang telah kiamat sekaligus orang paling kesepian
di atas bumi. Walau bukan manusia bumi, namun dia memiliki hati yang
lebih mulia.
Semua materi Superman dalam MAN OF STEEL nyaris sempurna. Dari tata
letak pengambilan gambar, akting, ensemble cast-nya, seragam Superman,
sampai soundtrack, sungguh luar biasa. Pakem cerita Superman klasik
masih terlihat namun filmmaker seperti tidak mau bertutur dengan cara
itu lagi. Tak ada Superman yang terbang ke sana kemari menolong orang
tertimpa bencana.
Penceritaan ulang pencarian jati diri Clark Kent sangat jauh dari pakem
utama mitologi yang cenderung berwarna ceria. Pada MAN OF STEEL, Kal
El/Clark Kent digambarkan sebagai manusia galau yang hidup tak tentu
arah. Narasi cerita di ambil dari sudut pandang 2 ayah Clark.
Apabila Jor El (Russell Crowe) menginginkan anaknya untuk tampil dan
memimpin dunia. Beda dengan Jonathan (Kevin Costner) yang menginginkan
anaknya supaya menjaga rahasia kemampuannya karena khawatir dunia akan
menolak kehadiran anaknya.
Sudut pandang 2 ayah ini tak berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Namun lebih menjadi ajaran Ayah kepada anaknya tentang bagaimana
menjalani hidup sebagai orang yang memiliki kemampuan khusus. Hal ini
mungkin akan lebih menarik apabila diteruskan menjadi pertarungan jiwa
Kal El/Clark Kent untuk memilih jalan hidupnya.
Adegan aksi yang disuguhkan oleh Zack Snyder sungguh memukau. Visual
kemampuan fisik Superman dan bangsa Krypton dibuat senyata mungkin,
mulai dari terbang, efek pertarungan dan ledakan. Adegan-adegan itu tak
pernah kita lihat di layar bioskop sebelumnya dan untuk hal ini Snyder
berhasil. Namun di balik adegan aksi yang besar dan mewah itu, secara
emosi terlihat datar, yang ada hanya ledakan, kecepatan bangsa Krypton
bergerak, bertarung dan penghancuran dengan special effect khas Snyder.
Kita tak bisa melihat bagaimana kepribadian Superman baru ini. Dari cara
dia bertarung, masih tetap sama dengan dengan Superman-Superman
sebelumnya.
Di luar adegan aksi, untuk urusan drama, Snyder bercerita dengan cara
flash back. Hal ini perlu untuk menceritakan perjalanan Clark Kent
sampai dia mengenakan baju pemberian Jor El agar sepenuhnya lepas dari
pakem utama yang sudah terlalu mainstream. Akting Michael Shanon sebagai
Jendral besar yang terluka harga dirinya tak diragukan lagi. Bahkan
lebih menarik perhatian dibanding Kevin Costner dan Russell Crowe.
Beberapa adegan drama terasa sangat menyentuh terutama saat adegan
keluarga Kent, seperti saat Martha Kent (Diana Lane) mencoba membujuk
Clark kecil untuk keluar dari tempat sembunyinya atau adegan saat
Jonathan melarang Clark menolongnya.
Screen time Russell Crowe sebagai Jor El tak disangka ternyata cukup
banyak menjadi bagian dari cerita MAN OF STEEL itu sendiri. Berbeda
dengan screen time Marlon Brando di Superman klasik yang hanya sekedar
tempelan.
Amy Adams sebagai Lois Lane juga di ceritakan ulang dengan template yang
lebih menarik, sebagai jurnalis jempolan sekaligus tokoh sentral yang
menyelamatkan Superman dan dunia. Aktor-aktor lain seperti Laurence
Fishburn yang memerankan Perry White (biasanya diperankan oleh aktor
kulit putih) juga terlihat berwibawa walaupun screen time-nya sangat
kurang.
Salah satu yang menentukan emosi MAN OF STEEL adalah Hanz Zimmer yang
sukses mengaduk-aduk cerita dengan score musik brilian. Zimmer berhasil
lepas dari bayang-bayang score musik klasik John Williams yang sudah
terlanjur melekat pada sosok Superman. Berbeda dengan John William yang
cenderung membawa keceriaan dan kemenangan, score musik Zimmer terdengar
sebagai musik latar tentang suasana saat itu, Zimmer berhasil memberi
sentuhan emosi yang mendalam.
MAN OF STEEL tidak menceritakan Superman yang dulu sebagai tokoh
superhero. Tapi lebih menjadi sajian sci-fi, tentang interaksi alien dan
manusia. Baju boleh superman tapi kehadiran Superman tak begitu terasa,
bahkan kata-kata Superman hanya terdengar beberapa kali di film ini.
Meski begitu MAN OF STEEL terasa lebih hidup dan lebih membumi. Snyder
dan David S Goyer sebagai penulis berusaha keras membumikan Superman
yang terlanjur menjadi karakter superhero klasik fantasi. Tak ada
kryptonite lagi dan Superman pun tak mengenakan celana dalam merah itu
lagi.